
Kadang-kadang, kita hanya memerlukan daya tangkas otak dan hati untuk memahami kejujuran orang lain melalui kiasan yang cuba mereka sampaikan. Mereka cuma cuba berlapik atas dasar menjaga sekeping hati yang lainnya dengan bahasa halus yang tersopan. Beruntunglah bagi mereka-mereka yang punya hati rapuh dan menangkap apa yang tersirat. Namun, untung juga buat mereka si hati batu; barangkali hendak masuk ke telinga pun belum tentu jadi. Meniti hidup dua puluh empat ini, semegahnya aku masih seperti anak kecil yang hidupnya hanya riang dan menikmati ruang yang ada mengalahkan mereka yang di usia lima. Jujurnya, aku tidak tahu apa dan apa yang harus aku transformkan dari jujur menjadikan diri ini seperti aku sendiri selayaknya atau menjadi orang asing di sisi lainnya. Masih ada yang perlu aku amati dan faham perihal kehendak orang lain. Kita tidak tahu, sebenarnya barangkali kita mendatangkan mual atau kejengkelan bagi pihak yang lain. Barangkali juga, kita punya sikap ini terlalu anak kecil buat usia kita yang puluhan dan barangkali juga, kejujuran kita dalam menjadi diri sendiri itu belum cukup puas untuk orang lain suka. Bila dibilang, jadilah diri sendiri; itu hanya satu ungkapan mudah. Yang payahnya, kita ini hidupnya saling bergantungan dengan mereka-mereka di sekeliling yakni orang-orang yang sayang akan kita, orang yang kekal di samping kita dalam satu-satu masa yang kita tidak ketahui tamatnya bila. Jadi, pabila ada saja kiasan menyatakan ada yang tidak kena yang perlu kita ubah dan buang, jangan dikeraskan hati tapi cubalah fikir jika ia positif. Bukan masalah besar bukan?
Dan untuk kedua kalinya, aku terhidu kiasan buat diri sendiri yang perlu aku tafsir dan ubah. Aku yakin, jika aku sungguh-sungguh menangkap kejujuran yang disampaikan secara halus dan terhormat itu, pasti lumayan jadinya buat aku. Ini bukan lagi perihal menjadi diri sendiri, tapi ini hal sikap yang perlu kita ubah.