Showing posts with label ajaran. Show all posts
Showing posts with label ajaran. Show all posts
Wednesday, October 31, 2012
Selagi ada.
Kita sering membutuhkan waktu yang panjang, ruang yang luas dan segala yag seharusnya tidak perlu ada tetapi harus dinikmati selagi masa punya kesempatan. Kita sering meminta-minta sedangkan kita harus tahu, kesempatan yang datang menjengah dalam hidup kita itu mungkin hanya sekali atau yang paling terbaik. Tapi kita sering sentiasa telat untuk menjamahnya lekas-lekas, kita sering memandangnya kosong, membiarkan waktu dihabiskan sehingga bila ia sudah tiada, kita mula menagihnya dan merayu agar ia lekas hadir semula. Kesempatan sering menjengah kita sekali. Nikmati sewaktu ada, atau sebaliknya kita bakalan menikmati rasa kesal sepanjang usia.
Labels:
ajaran
Saturday, September 29, 2012
Pembunuh berbisa.
Kata-kata sering menjadi pembunuh masa-masa bahagia kita. Dalam relung masa yang dinikmati bersama, ada di antaranya mencipta kepahitan melalui tutur bicara berbisa.
8.03 PM, Jalan Pasir Koja,
Kota Bandung.
Labels:
ajaran,
aku.kecewa.
Saturday, September 1, 2012
Sayang seribu kali sayang.
Barangkali aku terlupa menitipkan sedikit pesanan ringkas ini pada kau supaya nanti-nanti antara kita atau lebih tepatnya aku, tidak terluka dek permainan yang sedang kita atau lebih tepatnya kau, hayunkan.
Jangan dekati hati aku kalau hati kau sudah pun ditawan oleh orang lain.
Tapi sayang seribu kali sayang, aku kelewatan segala dan
hati aku sudahpun bernanah terluka.
Labels:
ajaran,
aku.kecewa.,
emosi,
tentang hati
Thursday, August 2, 2012
Selamat mampir ya Agustus.
Menjadi manusia yang egois itu bukanlah sesuatu yang menggembirakan, malahan ianya mewujudkan belati tajam yang merocok-rocok hati aku menjadi seorang manusia yang kecil lagi kerdil. Seawal Agustus kemaren, aku diherdik seorang teman, katanya aku ini manusia penakut segala. Takut realis yang menujal, juga takut segala kemungkinan yang mendatang tanpa keringat yang aku usahakan. Malahan, aku digelari olehnya seorang yang pasif, terlalu pasif.
Aku terhantuk, langsung sedar bahwa segala kata-katanya itu ada benarnya. Hati aku dilimpahi satu rasa. Barangkali memasuki Agustus ini, ada yang harus aku buangkan secara total. Harus menjadi pemberani untuk hidup yang sering disalahkan manusia sebagai tidak adil. Harus tiupkan semangat untuk sendiri tanpa sayap manusia lain, juga meyakini bahwa segala yang berlaku itu sudah ditetap Tuhan. Dan dengan mampirnya Agustus ini, moga ada sesuatu yang menyenangkan untuk aku kali ini. Moga-moga.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.
Sunday, July 8, 2012
Hidup dengan kejatuhan.
Aku adalah orang yang sering menghiasi hidup dengan angan-angan yang sememangnya indah bila disulamkan. Dari angan-angan, ada impian yang aku pasakkan tinggi-tinggi yang seeloknya ia dibiar mewah di lingkungan kerahsiaan diri sendiri. Menjadi orang yang sering merasai kesunyian dalam sebilangan masa yang ada dalam hidup kadang-kala bikin hidup seakan-akan kosong dan menyedihkan.
Dalam relung masa beberapa purnama lewat masa ini, kurang-kurangnya aku sudah mulai mampu hidup dalam senyuman dan tawa tanpa memikirkan perihal angan, juga berkaitan hati yang sering menempangkan hidup aku menjadi seorang yang sentiasa tampak lesu dan lemah. Saat ini, mungkin aku perlu jadi lebih kebal dalam setiap permainan yang diatur Tuhan, yang menguji aku menjadi manusia semanusianya manusia. Yang mematangkan fikiran aku untuk percaya, kita perlu hidup dengan kejatuhan sebelum bangkit menggapai impian.
Bersabarlah impian, kelak kau akan disambut oleh kenyataan. - AdiWafi.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.,
emosi
Monday, March 26, 2012
Aku harap ia sudah tidak kabur.
Lagi rumit kita menjalani hidup, lagi mewah pelajaran yang kita peroleh.
“Awak, saya dah nampak apa itu hidup,”
Jangan disalahkan takdir jika acuan hidup kau sudah begitu. Kurang-kurangnya kau tidak terlewat untuk merasai hidup yang sebenar-benarnya. Tuhan mencipta tiap dari kita berbeda-beda acuan hidupnya. Boleh jadi, kita begini dan orang itu begitu. Beda acuan dan beda bagaimana kita menerima serta menitinya sepanjang hidup. Kalau kau merasakan hidup ini rumit dan berbagi, syukurlah kerana Tuhan memilih kita merasai nikmat kerumitan yang paling indah untuk kita jadikan pedoman di hari-hari yang bakal kita lewati. Jika kau tidak merasai apa itu kesukaran untuk menjadikan hidup itu rumit, maka selamlah hidup ini dalam-dalam; berkelanalah jauh-jauh untuk menimba pelajaran melalui pengalaman mahal yang bakal dihadam. Tapi jika tidak mampu, bersyukurlah kurang-kurangnya kau mampu merasai bahagia dengan adanya mereka-mereka di sekeliling yang sering menjadi tongkat dan memberi kau bahu di saat kau jatuh, juga tersungkur.
Pokok utamanya, syukur.
Nampak?
Jangan bimbang jika masih kabur, kau masih di angka 20. Jalani setiap saat kehidupan dengan senyuman di hati dan bersiap-siagalah, hidup ini lebih mewah likunya di hari mendatang. Harus punya hati besar untuk menyimpan segala liku yang punya harga mahal. Redah dan kaut selagi masih punya ruang.
Jika kau terasa keseorangan dan tidak mampu lagi untuk bergantung pada sesiapa pun, ingatlah… Tuhan sentiasa ada untuk kita.
Labels:
ajaran,
aku.cinta.sahabat,
kesayanganku
Monday, March 19, 2012
Impresi pertama kali.
Kita tidak punya apa-apa magis untuk mengetahui perihal seseorang itu hanya tanpa kita mengenali dia secara mendalam-dalamnya. Dalam sesebuah perhubungan sesama manusia lain, aku sering membazir masa dengan menilik manusia yang aku kenali, atau manusia yang aku jumpai hanya melalui komunikasi (sama ada secara verbal atau tidak verbal), melalui riak wajah yang dipertontonkan dan juga reaksi yang dibalas ketika berlakunya lorong komunikasi di antara satu sama lainnya. Dari penilikan itu, seringkalinya aku mudah menjatuhkan tanggapan awal tentang perihal mereka-mereka itu walau sebenarnya itu adalah satu hal yang terang-terangan salah. Sebenar-benarnya pun; kita tidak dapat kenal seseorang itu hanya kerna wajahnya yang mencuka ataupun riaknya yang menggila ataupun diamnya yang mewah. Secara adil, setiap apa-apa perhubungan sesama manusia yang harus utama kita pertikaikan selain sifatnya melalui impresi pertama kali, harus dilanjutkan ke satu fasa saling kenal yang kemudiannya baru wajar untuk dijatuhkan tanggapan; dia itu jenisnya begini, begini dan begini. Seperti peribahasa Melayu yang sering mewah di bibir-bibir kita, 'tak kenal, maka tak cinta'.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.
Thursday, March 15, 2012
Kesan paling tajam.
Hari itu adalah hari yang panjang lain dari kebiasaan. Minda dan tubuh aku seolah-olah disuntik sukrosa yang berlebihan menyebabkan ada perilaku hiper yang kurang kawalan. Menjalani rutin biasa dengan menyunting bahan-bahan berita adalah tanggungjawab insani juga rezeki yang harus aku kerjakan buat isian perut di hujung bulan nanti. Hari itu, hari yang paling sebal aku kira, selain tahap sukrosa yang seolah-olah menggila, aku juga terbeban dek energi tubuh yang digunakan enam hari tanpa henti. Penat dan sedikit hilang. Suntingan yang harus disudahkan aku segerakan agar bebanan otak tidak terus ditujah keras apatah lagi aku sebenarnya sudah sedikit muak dengan rutin harian yang kini seolah-olah menjadi kepingan hidup yang sedikit kosong. Dengan hati-hati yang penuh berhati-hati, kerjaan dibereskan seperti kebiasaan. Syukur ia siap. Hati senyum-senyum dan malamnya lekas-lekas aku keluar dari kepungan yang menyesakkan selepas enam hari terkurung dengan kerelaan. Bebas dan minda langsung menjadi ringan tanpa bebanan.
Esoknya, ada panggilan yang sedikit menjatuhkan. Sedikit terkilan. Seringkali berhati-hati pun belum tentu ia sempurna. Dan diakui, aku hilang fokus. Musibatnya, aku menambah satu lagi pelajaran dalam hidup untuk belajar dari kesalahan yang dilakukan. Moga ia menjadi kesan paling tajam buat manusia seperti aku yang sentiasa hilang dalam keramaian.
Esoknya, ada panggilan yang sedikit menjatuhkan. Sedikit terkilan. Seringkali berhati-hati pun belum tentu ia sempurna. Dan diakui, aku hilang fokus. Musibatnya, aku menambah satu lagi pelajaran dalam hidup untuk belajar dari kesalahan yang dilakukan. Moga ia menjadi kesan paling tajam buat manusia seperti aku yang sentiasa hilang dalam keramaian.
Labels:
ajaran,
dunia.journalist,
emosi,
kecamuk,
kerjaan,
orang media,
serabut
Thursday, March 8, 2012
Kelupaan.
Angin lewat ketika ini sedikit mendung dan berangin selain turut dilimpahi hujan yang disyukuri sekalian makhluk menjadikannya rahmat Tuhan paling diangkat-angkatkan. Waktu-waktu sebegini adalah saat terbaik buat aku menghargai hujan bersama haruman buku-buku yang kian membukit di pustaka kecil rumah. Beberapa hari yang lepas, ada dua hal yang membuka sedikit ruang fikiran aku perihal hubungan manusia dan Tuhan pencipta alam yang sering tandus dan pincang dek keghairahan makhluk sosial yakni manusia yang sering dahagakan nikmat dunia melebihi segalanya. Sudah diterang-terangkan, sememangnya kita termasuk aku sendiri adalah orang yang sering mahukan waktu libur dan hiburan yang tinggi bagi mengimarahkan hidup yang dipinjamkan sementara buat kita-kita yang sering alpa. Jujur kata, aku masih tidak punya tahap keimanan tinggi yang boleh dibangga-banggakan. Malah, aku juga manusia kerdil yang kosong dan gersang, yang mahukan cahaya penuh untuk dijadikan bekalan kehidupan selepas mewah berlibur di sini. Lebih tragisnya, sebenarnya kita-kita ini buta dan perlukan mata serta tongkat sebagai pembimbing ke arah jalan yang hendak kita tuju. Pilihan itu ada. Dan sebenar-benarnya pun, tiap-tiap apa yang kita lakukan, dalam apa-apa hal, atau apa jua cara, atau apa jalan yang kita kehendakkan; pertama-tamanya adalah harus ingat Tuhan.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.
Sunday, March 4, 2012
Syukur untuk sekian kali.
Syukur, permulaan dua purnama pertama untuk tahun ini sedikit berwarna buat manusia yang jiwanya rapuh, hatinya kaca seperti aku. Sedikit lari dari kebiasaan, masa-masa luang yang sering dirajakan di sini sedikit berkurangan dek kebiasaan yang aku gubah demi satu hal yang lebih positif di dua ribu dua belas ini. Ketepikan perihal itu. Awal ini sahaja, ada beberapa hal yang sudah cukup-cukup mengukir sedikit bunga bahagia buat bekalan hari-hari yang bakal aku lewati. Mudahnya hidup, manusia sebagai makhluk sosial; yakni kelilingnya adalah masyarakat yang harus kita gauli dan mengait tali-tali persahabatan dengan selayaknya, juga sejujurnya. Syukur untuk kedua kalinya, warna dunia aku masih belum kelabu penuh lagi, malah semakin berwarni melebih tujuh warna pelangi sedia ada. Jujurnya, ada hal boleh kita kongsikan di umum, namun ada juga harus disimpan senyap-senyap, biar hanya kita sahaja menjadi tempayan simpanan. Syukur untuk ketiga kalinya, aku punya teman-teman jujur yang yang tidak pernah lupa untuk saling berbagi masa dan ruang untuk aku berkongsi rasa. Tuhan itu sentiasa baik-baik untuk kita, Dia sentiasa ada untuk kita. Jadi, harus menikmati hidup dengan rasa syukur supaya Tuhan tahu, kita tidak pernah lupa tentang erti hidup. Bersenang-senanglah untuk itu. Senyum. :)
#Pre-order untuk buku IFall boleh dibuat sekarang, lanjut ke KeratStudio.
#Pre-order untuk buku IFall boleh dibuat sekarang, lanjut ke KeratStudio.
Wednesday, February 15, 2012
Bakal jatuh.
Manusia yang degil adalah manusia yang tidak takut akan apa yang bakal terjadi pada hari mendatang. Manusia yang degil adalah manusia yang berani menghadapi setiap risiko pada ketentuan yang bakal dihadapkan. Aku, sedang dan masih lagi berdegil untuk mengulang kembali setiap sejarah yang pernah aku kecewakan dulu-dulu. Sedangkan, terang-terangan aku tahu dan jelas mengetahuinya bahwa, aku bakal jatuh tersungkur, berdarah dan merasai kesakitan serta hidup bersama parut yang menyebalkan. Aku bakal mengaduh sakit, terbeban, juga merasai terkilan lantaran parut yang dikesankan. Bakal, dan aku harap parutnya tidak kekal kerna aku bakal berdegil-degil sekali lagi. Masih berdegil. Nampak kuat ya? Sebenar-sebenarnya akulah orang yang paling bodoh dan bebal, yang memilih untuk disakiti oleh mereka-mereka yang kabur matanya pada setiap kejadian yang dilahirkan berbeda-beda.
Bersiap-siagalah,
aku bakal jatuh dan harus kuat untuk itu.
Untuk sekali lagi, dan untuk sekian kalinya.
Labels:
ajaran,
aku.kecewa.,
emosi,
kecamuk,
tentang hati
Saturday, February 11, 2012
Memandang hidup.
Aku pernah merasakan hidup aku terlalu kosong dan hambar dengan kondisi emosi yang turun naik ibarat cuaca yang sedang melingkari kehidupan kita. Pernah sesekali ada masanya aku rasa terlalu penat dengan kehidupan, tetapi aku tak punya pilihan lain selain cuba tersenyum dan meledak tawa berserta rasa positif yang diangkat-angkatkan. Kurang-kurangnya aku cuba untuk meledak tawa saat seribu satu rasa mengganggu setiap pangkal hari-hari yang aku lewati.
Berbicara dengan seorang teman lewat petang kelmarin, katanya; ruang hidupnya kosong, bosan tak berwarna. Dia mengeluh perihal kerja yang sering mengejar-ngejar fikiran. Sambil ketawa dia menyatakan sungguh-sungguh betapa kesalnya dengan kehidupan yang dia lalui. Dia tak punya banyak masa untuk ini, untuk itu. Baginya, hidupnya hambar dan perlu mengerah keringat semata-mata mahu hidup mewah, ataupun hanya untuk mengisi perut dengan sedikit nasi. Dia ketawa.
Aku memandangnya dengan sedikit senyuman. Begitu caranya dia memandang kehidupan. Aku katakan padanya, kurang-kurangnya kau masih punya ketawa dan masih boleh bersenyum-senyum. Hidup ini mudah, kau rumitkannya dengan rungutan kosong yang kau ciptakan. Bersenang-senanglah. Tuhan masih beri kau peluang merasai hidup dan kurang-kurangnya masih diberi masa menikmati makanan.
Berbicara dengan seorang teman lewat petang kelmarin, katanya; ruang hidupnya kosong, bosan tak berwarna. Dia mengeluh perihal kerja yang sering mengejar-ngejar fikiran. Sambil ketawa dia menyatakan sungguh-sungguh betapa kesalnya dengan kehidupan yang dia lalui. Dia tak punya banyak masa untuk ini, untuk itu. Baginya, hidupnya hambar dan perlu mengerah keringat semata-mata mahu hidup mewah, ataupun hanya untuk mengisi perut dengan sedikit nasi. Dia ketawa.
Aku memandangnya dengan sedikit senyuman. Begitu caranya dia memandang kehidupan. Aku katakan padanya, kurang-kurangnya kau masih punya ketawa dan masih boleh bersenyum-senyum. Hidup ini mudah, kau rumitkannya dengan rungutan kosong yang kau ciptakan. Bersenang-senanglah. Tuhan masih beri kau peluang merasai hidup dan kurang-kurangnya masih diberi masa menikmati makanan.
Sering mengeluh tentang kehidupan, bermakna kita tak kenal erti syukur.
Labels:
ajaran,
aku.cinta.sahabat,
aku.dan.duniawi.
Wednesday, February 1, 2012
Merasai kenangan
Bermesra di lokasi-lokasi murah menjadi saksi pada setiap kenangan yang telah kita kita-kita lewati suatu masa dahulu. Dan kini, bukan satu kesalahan total pun jika ia kekal dikenang dengan melaluinya semula di lokasi sama walau kita sudah menginjak usia dengan isi poket yang semakin tebal diisi sendiri berbanding dahulunya yang hanya berbekalkan uwang orang tua kita, mahupun pinjaman pelajaran (yang kekal menghantui sehingga hujung usia). Biar lokasinya murah, asalkan kenangannya masih mahal.
Labels:
ajaran,
aku.cinta.sahabat,
aku.dan.duniawi.,
kangen,
kesayanganku
Friday, January 20, 2012
Tuhan, tolong lindungi aku.
Dalam lingkungan hidup aku, dan mungkin juga di keberadaan orang lain, ada yang dari kita ini terlalu merasakan diri mereka hebat melebihi manusia lain.. Malah, dengan sifat angkuh dan riaknya itu sebenarnya menunjukkan betapa dia itu berada dalam lingkungan manusia yang sering hidup dengan pujian, malah mendahagakannya. Berbicara perihal merendah diri, aku tidak nampak di manakah kesalahan dalam menjadikannya ia sebagai satu teman hidup kita secara kekal. Malah, meletakkan diri serendah-rendahnya itu adalah satu sifat yang harus kita juarakan melebih sifat meninggi diri. Tiap dari kita ini, punya sisi masing-masing yang aku kira ada hebatnya yang masih tersimpan. Percayalah, kita sudahpun juara saat terbentuknya satu nyawa di rahim ibu kita satu saat dahulu. Jadi, berbanggalah selayaknya dan jangan angkuh sehingga menerbitkan rasa jengkel dalam hati manusia yang lain dengan sifat kamu yang jelik. Tuhan, tolong jauhi aku dari menjadi manusia yang berhidung tinggi. Lindungi aku di bawah rahmatmu. Salam Jumaat.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.
Tuesday, January 10, 2012
Antara duanya.
Aku.
Dalam menghadam sesebuah bahan bacaan, aku tidak boleh melangkau bahan yang sedang aku baca dengan membuka buku yang lainnya, itu mengkhianati namanya.
Dia.
Setuju, aku pun tidak akan berbuat begitu.
Aku.
Lewat kebelakangan ini, aku tak punya banyak waktu untuk menghadam segala jenis bahan bacaan yang telah aku beli, yang mana ada di antaranya dibeli pada awal tahun lepas lagi.
Dia.
Kau tidak harus sebegitu. Sekurang-kurangnya, kau harus curi waktu senggang yang ada untuk menghadam secara sedikit-dikit walau dalam apa jua caranya pun.
Aku.
Aku lakukan itu. Cumanya, hidup aku sentiasa penuh dengan segala kerjaan yang tidak dapat dirungkai sehingga aku hilang masa untuk dicuri. Namun, ia masih tidak kritikal. Kurang-kurangnya ada yang sudah dihadam. Tambahan pula, aku terlalu gila dengan buku sehingga hampir setiap bulan aku khususkan satu pelaburan besar hanya semata-mata memenuhi kepuasan hati.
Dia.
Aku membeli bahan bacaan hampir setiap minggu, malah ada lagi buku yang dipesan dari atas talian masih tidak sampai ke tangan aku, Hana.
Aku.
Patutlah kau mewah kosa kata dan hebat dalam penulisan.
Saat itu wajah aku merona merah yang tidak berapa jelas kelihatannya dek tona yang kurang cerah. Aku terkesan dan harus mulakan sesuatu.
Kelmarin, saat aku membawa pulang Anak Apak (Memoir Politik Kewartawanan) – Subky Abdul Latif dan Langit Vanilla – Wani Ardy ke Anggerik Indah, teman serumah aku meninggalkan pesan.
Labels:
ajaran,
aku.jiwa.seni,
kegilaan
Sunday, January 8, 2012
Manusia tanpa ekspresi yang menyakitkan hati.
Manusia yang tanpa perasaan ini sebenarnya sangat menyakitkan hati, malah perilakunya itu cukup untuk buat aku mengalah dan pergi dari terus mengharap. Tahukah kau kawan, kalau ia pun kau egois dengan perasaan sendiri; kurang-kurangnya belajarlah untuk menghargai manusia yang sedang belajar menerima kau seadanya waima hanya dengan sedikit percubaan. Aku tidak mahu ada penyesalan di hujungnya saat aku mulai rasa jelik dengan sikap kau yang langsung tidak mahu melakukan walau sezarah perubahan. Payah ya?
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.,
aku.kecewa.,
emosi,
kangen,
kecamuk,
kejelikan
Friday, January 6, 2012
Mereka buta hati untuk kenal erti sebuah pelajaran.
Dalam lingkungan profesi seperti ini; orang-orang seperti aku harus punya kesabaran yang cukup kuat dalam melayani karenah rakan sekapal yang lain. Mereka harus tahu bahawa; tiap dari kita ini punya tekanan mental dan fizikal yang perlu dikawal selayaknya. Kata mereka; orang-orang seperti kami ini, kerjaannya hanya berurusan dengan fizikal komputer dan tidak seperti mereka yang harus berinteraksi dengan ramai manusia. Jadinya, tekanan yang mereka alami lebih dasyat dan merungsingkan sehingga boleh jadi bukan satu kesalahan jika menulis bahan dengan sambil lewa tanpa memikirkan tanggungjawab yang seharusnya mereka pikul. Lebih memeritkan lagi jika mereka fikir dengan adanya orang seperti-seperti kami ini, makanya mereka boleh menjadikan kami manusia yang paling sesuai untuk dilampiaskan kesalahan tanpa sedar ia menyusahkan kami secara total. Tetapi sebenarnya mereka tidak sedar bahawa, dengan kesombongan dalam menyediakan bahan yang selayaknya dibanggakan untuk tatapan khalayak, mereka sebenarnya sudahpun membogelkan kebodohan dalam setiap perlakuan yang mereka egokan. Sayang sekali, mereka egois malah buta hati untuk kenal erti sebuah pelajaran.
Seharusya mereka perlu sedar bahwa, profesi yang sedang mereka jawatkan sekarang ini adalah pilihan dan bukan paksaan. Makanya, jangan menjadikan tekanan berinteraksi dengan ramai manusia itu sebagai satu rungutan tunggal, kerna ia satu tanggungjawab yang sudah kita persetujui saat kali pertama menerimanya awal yang dahulu. Sudah lupa?
Labels:
ajaran,
dunia.journalist,
kerjaan,
orang media
Sunday, January 1, 2012
Bukan hanya sekali setahun.
Kata seorang teman; perubahan tahun dan usia itu bukan hal penting yang perlu kita kisahkan, tetapi berapa banyak pencapaian yang kita telah lakukan sepanjang hidupnya kita di sini.
Aku sedikit terkesan akan kata-katanya itu. Walau bedanya kita pada usia yang sering dimegahkan, tanpa sesuatu yang membuatkan kita hidup selesa dengan penuh senyuman pun belum tentu mampu menerbitkan sedikit kebanggaan. Lebih-lebih kalau ia hanyalah sekecil zarah yang kosong tak berisi. Lantaran kata-kata dia juga, pabila ditanya; apa azam tahun baru untuk 2012 ini, aku senyum dengan satu hal yang sedang berlegar di ruang minda. Serasanya aku tidak perlukan lagi azam untuk tahun baru melainkan menanam azam baru pada setiap permulaan hari yang baru. Itu mungkin lebih selayaknya untuk hidup yang lebih sempurna.Sebenar-benarnya, perubahan (baca : positif) bukan perlu dilakukan sekali dalam setahun; tetapi perlu dilakukan setiap hari dalam setiap saat kehidupan kita. Mari kita sama-sama lakukan mulai sekarang.
Aku sedikit terkesan akan kata-katanya itu. Walau bedanya kita pada usia yang sering dimegahkan, tanpa sesuatu yang membuatkan kita hidup selesa dengan penuh senyuman pun belum tentu mampu menerbitkan sedikit kebanggaan. Lebih-lebih kalau ia hanyalah sekecil zarah yang kosong tak berisi. Lantaran kata-kata dia juga, pabila ditanya; apa azam tahun baru untuk 2012 ini, aku senyum dengan satu hal yang sedang berlegar di ruang minda. Serasanya aku tidak perlukan lagi azam untuk tahun baru melainkan menanam azam baru pada setiap permulaan hari yang baru. Itu mungkin lebih selayaknya untuk hidup yang lebih sempurna.Sebenar-benarnya, perubahan (baca : positif) bukan perlu dilakukan sekali dalam setahun; tetapi perlu dilakukan setiap hari dalam setiap saat kehidupan kita. Mari kita sama-sama lakukan mulai sekarang.
Labels:
ajaran
Wednesday, December 21, 2011
Senyumnya banyak, bahagianya kurang.
Pada sebuah ketentuan, kita tidak akan pernah sekali tahu apa yang akan terjadi pada hari mendatang; apatah lagi membuat ramalan tentang kejadian selepasnya. Aku selalu yakin dan percaya, hidup ini sentiasa penuh dengan kejutan yang mentakdirkan setiap ketentuan. Kita mahukan segala yang kita telah adun dan rencana itu terjadi dengan langsungnya tanpa sebarang cela, namun kita masih lemah serta tak punya kuasa melawan Tuhan yang sentiasa ada buat kita. Sepanjang setahun ini, terlalu banyak kejutan yang aku hadapi dalam meniti hidup sebagai seorang manusia yang sisinya sentiasa kerdil dan lemah. Senyumnya banyak, tapi bahagianya kurang. Asalkan aku mampu lagi untuk bersenyum-senyum, maknya, ia bukan lagi pengakhiran untuk sebuah kehidupan.
Teruskan bersenyum-senyum.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.,
emosi,
kecamuk,
tentang hati
Sunday, December 11, 2011
Rasa yang paling celaka.
Seperti yang pernah aku muntahkan di sini dahulu, aku ini orangnya paling sukar untuk jatuh percaya pada setiap kata ataupun perlakuan sesiapa pun. Walau segigih mana pun aku diyakinkan, hati aku paling tidak pun hanya mampu terusik sedikit, dan selebihnya lebih pada jatuh rasa ragu-ragu. Dan pabila saatnya aku terjatuh percaya lewat baru-baru ini, ia hampir memecahkan tembok keegoan sendiri dan memahat kepercayaan dek rasa yang sedang diyakini. Namun sayangnya, ia sebenarnya meninggalkan satu rasa yang sehingga saat ini mahu saja aku bunuh dan tanam dalam-dalam segala ingatan yang sedang mewah di fikiran. Tahukah kau kawan, ia adalah rasa yang paling celaka dan menyebalkan. Saat ini, aku dengar ada ketawa mengiringi kebebalan aku.
Labels:
ajaran,
aku.dan.duniawi.,
emosi,
kecamuk,
serabut,
tentang hati
Subscribe to:
Posts (Atom)




















