Matari mulai malu-malu mencium bumi, tak seperti hujan yang terburu-buru mengejar senja. Ah, ada banyak rencana besar yang sedang kita genggam. Sedangkan hujan pun belum pernah kasihan dan mulai berlumba-lumba menyaingi matari. Di jendela, aku meneguk sebuah harapan yang tertangguh, dan di antaranya terlihat sebuah perjalanan yang berliku serta menghimpit. Tidak peduli lagi sama ada hujan atau matari yang sedang meraikan kita, biar di saat orang-orang sedang mengeluh perihal korupsi dan kenaikan harga yang menggila, aku sedang siap-siap untuk mencari keberadaan dalam sebuah perjalanan yang panjang.
“Sebuah perjalanan panjang yang
berliku-liku selalu butuh tempat untuk pulang. Dan tempat pulang itu adalah
kamu.” - Perempuan Sore
7 comments:
semua isu complete dalam satu post ni,nice!
Pap! Pap! Pap!
perghh, lengkap
tentunya sangat beruntung pada sesiapa yang masih punya tempat pulang, sebaliknya yang hilang arah terpaksa meredah hujan yang galak menimpa.
bayangkan perasaan itu yang dihimpit pula dengan perihal korupsi dan kenaikan harga yang menggila.
mungkin bakal tercetus monsun yang dahsyat. tolonglah tuhan, hantarkan malaikatmu segera.
ya!tempat pulang itu hanya kamu.kerna hati aku ada pada kamu...ye dak?ahahaa
Moga diperjalanan pulang, sempat kau singgah ke mari meneguk kopi bersama barangkali. =)
Asalamualaikum, singgah baca entri di sini dan follow. Jemput ke blog saya pula ya. Terima kasih.
Post a Comment